
Keresahan menghadapi Pilpres 2019, bukan lagi masalah kalahnya Jokowi atau menangnya Prabowo atau suksesnya tagar 2019 Ganti Presiden. Keresahan yang dirasakan saya pribadi dan mungkin sebagian besar dari rakyat Indonesia adalah terjadinya perpecahan diantara rakyat Indonesia karena dua kubu atau lebih saling menjatuhkan jagoan lawan untuk memperebutkan kursi nomor satu di Indonesia.
Jika Jokowi menyemangani relawannya, pendukungnya, dan seluruh rakyat Indonesia bahwa ada titik yang sangat terang yang dituju setelah melalui masa yang pahit, masa yang susah. Dan bermanja-manja, bermalas-malasan tidak akan membuat satu negara kemudian menjadi maju. Lalu pesan yang disampaikan adalah bahwa bekerja itu ada militansi sehingga kekuatan "tenaga dalam" bisa keluar semuanya mengahadapi PIlpres 2019.
Sementara Prabowo menyemangati relawannya, pendukungnya, kader-kadernya dan rakyat Indonesia untuk terjun ke kancah politik guna merebut mandat dari rakyat Indonesia. Pesan yang disampaikan adalah pendukungnya harus kompak, jangan saling menjelek-jelekkan, jangan menfitnah lawan, jangan mengjelek-jelekan Lawan.
Namun saya melihat, diluar isi pidato mereka, antara Jokowi dan Prabowo mempunyai langkah dan strategi menghadapi Pilpres 2019 yang sangat jauh berbeda.
Jokowi sebagai petahana, dia terus bekerja, bekerja, dan bekerja. Memecut jajaran kabinet kerjanya untuk segera menyelesaikan program-program yang ditargetkan. Sementara Prabowo, disetiap kesempatan terdengar tentang banyak hal mengenai kondisi Indonesia yang dilihat dari sudut pandang yang berbeda. Yang pasti cukup bertentangan dengan apa yang rakyat lihat di lapangan. Seperti misalnya tentang elit-elit poilitk yang maling, bubarnya Indonesi di tahun 2030, pihak asing yang ingin mencaplok Indonesia, tentang kekayaaan Indonesia yang melimpah, tentang perjuangan, dan hal lain yang sangat patriotik seolah Pilpres 2019 adalah ajang perang.
Inilah yang meresahkan. Perbedaan isi pidato yang begitu mencolok antara Jokowi dan Prabowo yang bisa membuat rakyat resah.
Jokowi sebagai petahana, isi pidatonya penuh dengan laporan-laporan hasil kerja, tentang berapa banyak serifikat yang sudah dibagikan pada rakyat, berapa panjang jalan yang sudah dibangun, berapa banyak pelabuhan, bandara dan bangunan yang sudah berdiri dan diresmikan. Juga tentang progran-program yang sedang dan akan dijalankan.
Prabowo? Jujur saja, dari beberapa video yang saya dengarkan, tidak ada satupun Prabowo mengutarakan sebuah program yang nanti akan diunggulkan di Pilpres 2019. Isi pidato Prabowo seringnya diisi dengan kecurigaan-kecurigaan, tuduhan-tuduhan, jargon-jargon untuk "merebut" apa yang dia pikir sedang dikuasai oleh pihak yang tidak bisa bertanggung jawab pada rakyat, sehingga mandat rakyat harus direbut.
Di mata Partai Gerindra, digambarkan seolah Indonesia ini dalam keadaan darurat ekonomi, darurat ini dan darurat itu yang secara disadari atau tidak, mampu menumbuhkan semangat pendukungnya untuk "berperang" mengambil mandat rakyat itu secara paksa (ref. KBBI arti dari rebut adalah mengambil sesuatu secara paksa).
Saya jadi bertanya, Kenapa Prabowo harus berpidato dengan selalu menyudutkan pemerintahan? Tidak pernah sekalipun Prabowo mengatakan apresiasi dia terhadap pencapaian yang telah diraih oleh pemerintahan Indonesia. Misalnya saja tentang keberhasilan Menteri KKP dalam menanggulangi pencurian ikan. Atau tentang keberhasilan pemerintah Indonesia menghapuskan Bea Masuk Anti Dumping bagi minyak sawit di pasar Eropa, atau tentang keberhasilan pemerintah memilik 51% dari saham Freeport dan masih banyak lahi keberhasilan kerja menteri-menteri Jokowi.
Atau, kalau Prabowo tidak mau mengapresiasi hasil kerja pemerintah, paling tidak Prabowo mengisi pidatonya dengan rencana-rencana dia di masa depan. Misalnya menguraikan program apa yang akan dia jalankan jika dia terpilih menjadi Presiden Indonesia. Atau menjabarkan bagaimana Prabowo akan melunasi hutang negara. Karena kita tahu banyak dari kader Gerindra menuduh Jokowi sebagai si Raja Utang.
Akan menjadi sangat lucu dan memalukan jika satu hari Prabowo menjadi Presiden Indonesia lalu dia berhutang juga, walaupun hanya satu dolar !!!
Selama 4 tahun ini, kader dan pendukung Partai oposisi sebegitu intensive mengejek Jokowi sebagai si Raja Hutang. Sebagai calon Presiden Indonesia, Prabowo sebaiknya memperkenalkan rencana program dia ke depan yang bisa menjamin bahwa Indonesia akan mampu melunasi dari hutang yang turun temurun itu dan menjadikan Indonesia sebagai negara yang terlepas dari seluruh utang luar negeri dan mampu mandiri mengejar ketertinggalan Indonesia dalam hal pembangunan. Karena jika ini berhasil dilakukan, niscaya, saya yakin 1000% Indonesia saat itu sudah pasti menjadi negara adidaya yang sejahtera.
Mulailah ingatkan kader-kader Gerindra untuk mulai bersikap "gentlemen". Karena seperti Fadli Zon yang selalu nyinyir, dengan dalih apapun, itu hanya menanamkan kebencian rakyat pada lawan. Apakah Prabowo mengharapkan bisa memenangkan Pilpre 2019 dari hasil menanamkan kebencian pada rakyat terhadap Jokowi? Saya pribadi benar-benar berharap semoga tidak !!! Karena kalau dugaan ini benar, artinya lawan Jokowi adalah sekelompok orang-orang pcnd*ng.
Jika memang sosok Prabowo adalah pesaing yang hebat untuk seorang Jokowi, rakyat akan sangat senang melihat dua putra bangsa beradu program demi memajukan negara dan mensejahterakan bangsa.
Beranikah Prabowo untuk mengambil tantangan ini? Atau Pilpres 2019 hanya masalah menang atau kalah dan bukan benar atau salah????
SUMBER : seword.com
0 Response to "Beranikah Prabowo Adu Program Melawan Jokowi di Pilpres 2019 Nanti??"
Posting Komentar