loading...
loading...

JOKOWI SEDANG MENGAWASI MUSUH LAMA AHOK, BUKAN GERINDRA/PRABOWO!! LALU SIAPA YAH KIRA-KIRA, SIMAK YUK INFORMASI INI




Prabowo nampaknya sudah bersiap diri untuk menghadapi pertarungan ulang dengan Jokowi pada Pilpres 2019 mendatang. Selain sebelumnya sudah mengeluarkan berbagai pernyataan yang kontroversial, Prabowo dan Partai Gerindra juga sedang giat dalam menentukan koalisi partai yang akan diajak bersama-sama melawan koalisi partai yang mengusung Presiden Jokowi.

Sementara dari kubu Jokowi, tanggapan atas resminya Prabowo diusung Partai Gerindra sebagai capres mereka, kelihatannya biasa-biasa saja. Malah terkesan sudah diantisipasi. Sehingga ada kesan bahwa “musuh” yang sedang diwaspadai oleh Jokowi bukannya Gerindra dan Prabowo. Sebagaimana yang disampaikan oleh Direktur Eksekutif Charta Politika Indonesia, Yunarto Wijaya, dilansir kompas.com, “Fenomena incumbent (petahana) yang menarik itu, lawan terberatnya adalah bukan nama-nama penantangnya, tapi fenomena seberapa besar ‘asal bukan Jokowi’.” Ditambahkan oleh Yunarto, “Jadi lawan Jokowi itu adalah 'asal bukan Jokowi'. Di sini saya pikir Jokowi juga akan berhitung lebih dulu seberapa besar dan bagaimana karakter dari masyarakat yang tergabung dalam 'Asal Bukan Jokowi'."


Kelompok-kelompok “asal bukan” ini sudah ada ketika paslon Ahok – Djarot bertarung di Pilgub DKI Jakarta pada 2017. Justru kelompok inilah yang kemudian menentukan kemenangan paslon Anies – Sandiaga pada waktu itu. Waktu itu, sebuah survei yang diselenggarakan Lembaga Media Survei Nasional (Median) mengungkapkan adanya fenomena ini. Di dalam survei itu, mereka menemukan sebuah alasan khusus kenapa responden lebih memilih paslon Anies – Sandiaga, yakni alasannya adalah “asal bukan Ahok”. Menurut hasil survei itu, ada 25,9 persen responden dari 800 warga DKI Jakarta yang mereka temui, yang lebih memilih paslon Anies – Sandiaga dengan alasan tersebut, bukan karena alasan lain.

Terlepas dari hasil survei tersebut, kita melihat bahwa di baik dalam putaran pertama Pilgub DKI Jakarta maupun putaran kedua, perolehan suara paslon Ahok – Djarot tetap di seputara angka 42 persen. Sementara para pemilih paslon Agus – Silvi di putara pertama, mengayunkan suaranya dan mendarat ke paslon Anies – Sandi. Ini membuktikan bahwa memang benar adanya fenomena “asal bukan Ahok” tersebut.

Ini lah juga yang sekarang ini sedang diwaspadai oleh Presiden Jokowi. Kalau dari Partai Gerindra kan sudah jelas maunya apa dan siapa. Sedangkan pada kelompok-kelompok yang “asal bukan Jokowi” ini, harus diamati dan dibaca dengan sebaik-baiknya. Karena, menurut Yunarto, ini lah faktor penting yang akan menentukan pemilihan calon wakil presiden bagi Jokowi.

Yunarto juga memberikan contoh karakter dan kecenderungan kelompok-kelompok ini dan dampaknya bagi penentuan siapa cawapres bagi Jokowi. Misalnya, jika alasan ketidaksukaan mereka pada Jokowi dikarenakan alasan tidak pro-agama Islam khususnya, maka ada dua contoh pilihan cawapres: Ketua Umum Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) Muhaimin Iskandar atau Gubernur NTB Tuan Guru Bajang (TGB) Zainul.

Apabila isu yang menyerang Jokowi berdasarkan pada kebencian dan sentimen SARA, maka ada kemungkinan Jokowi akan memilih sosok yang berlatar belakang militer atau mantan tentara yang dianggap juga dekat dengan kelompok agama sebaga cawapres, misalnya Moeldoko, yang saat ini menjabat sebagai Kepala Staf Kepresidenan.

Namun, jika isu ketidaksukaan terhadap Jokowi berdasarkan ketidaksukaan terhadap kebijakan dan situasi ekonomi, maka kemungkinannya adalah sosok teknokrat dari kalangan partai politik lah yang akan dipilih Jokowi sebagai cawapresnya. Sosok teknokrat itu harus memiliki kemampuan membangun secara ekonomi. Sosok ini bisa kita temui pada Ketua Umum Partai Golkar Airlangga Hartarto, atau pun bahkan Hary Tanoesoedibjo, Ketua Umum Partai Persatuan Indonesia (Perindo).

Menurut saya langkah Jokowi mewaspadai kelompok-kelompok “asal bukan Jokowi” ini sangat tepat. Kalau bercermin dari pengalaman di Pilgub DKI Jakarta, justru mereka ini lah yang memberikan surprise di akhir pemilihan dengan kemenangan lawan dari Ahok – Djarot. Padahal tingkat kepuasaan masyarakat terhadap kinerja Ahok – Djarot waktu itu sangat tinggi angkanya. Kemudian di dalam beberapa hasil survei pun, masih terlihat ada keunggulan paslon Ahok – Djarot walaupun dengan selisih sedikit dengan elektabilitas Anies – Sandiaga. Dan yang sulit dilupakan adalah keoknya Anies – Sandiaga di dalam acara debat paslon gubernur dan wakil gubernur DKI Jakarta yang disiarkan secara live. Artinya, kinerja dan pencapaian yang mumpuni tidak serta merta akan menjamin kemenangan akhir. Walaupun ada perbedaan yang signifikan dikarenakan adanya kasus penistaan agama waktu itu.

Saya juga masih melihat beberapa teman yang sangat anti sekali dengan Jokowi, terlihat dari postingan yang mereka selalu unggah di akun media sosial mereka. Mereka orang-orang yang berpendidikan tinggi dan pastinya tidak menerima bayaran untuk memperlihatkan kebencian kepada Presiden Jokowi. Benci ya karena benci aja. Susah kan kalo yang begini. Semoga nanti cawapres Jokowi bisa mengimbanginya.

SUMBER : seword.com

0 Response to "JOKOWI SEDANG MENGAWASI MUSUH LAMA AHOK, BUKAN GERINDRA/PRABOWO!! LALU SIAPA YAH KIRA-KIRA, SIMAK YUK INFORMASI INI"

Posting Komentar