
Setiap Jokowi berkunjung ke suatu daerah, masyarakat setempat pasti berjubel. Masyarakat tahan berjam-jam menunggu dan rela berdesak-desakan saat bertemu Jokowi, bukan semata-mata karena pria kelahiran Solo itu adalah presiden, tetapi juga oleh faktor lain yang justru lebih dominan yakni personality Jokowi.
Tanpa bermaksud meremehkan para presiden sebelumnya, atmosfir kunjungan Jokowi ke daerah terasa sangat berbeda. Hal ini terjadi karena tipikal pemimpin yang dibutuhkan rakyat sekarang, berbeda dengan yang dulu. Rakyat sekarang butuh pemimpin yang tipenya seperti jokowi.
Perbedaan kebutuhan itu muncul karena, seperti yang ditulis Daniel H. Pink, dalam buku larisnya, A Whole New Mind, dunia berubah sesuai dengan tipe pikiran umat manusia.
Beberapa dekade lalu, tulis Pink, adalah era industri. Era itu ditunjukan dengan pabrik besar dan proses perakitan bagian mesin yang memperkuat perekonomian. Pada babak ini, pekerja mengandalkan kekuatan dan keuletan pribadi.
Selanjutnya adalah babak informasi, yang ditunjukan dengan AS dan negara lainnya yang mulai berkembang. Produksi massal memudar, sedangkan informasi dan pengetahuan menjadi “bahan bakar” bagi perekonomian di dunia maju. Tokoh sentral dalam babak ini adalah para pekerja ilmu pengetahuan yang ciri pentingnya adalah kecakapan dalam pemikiran otak kiri.
Kemudian muncul babak ketiga, yakni era konseptual. Ciri utamanya jelas Pink, adalah adanya pencipta dan pemberi simpati yang kemampuan khasnya ialah pemikiran otak kanan.
Era otak kanan lanjut Pink, berbeda jauh dengan dua era sebelumnya. Di era konseptual ini, tidak lagi memadai jika kita hanya mampu menciptakan sebuah produk jasa, pengalaman, atau gaya hidup yang semata-mata fungsional, namun penting pula menciptakan sesuatu yang juga indah, sedikit fantastis dan menarik secara emosional.
Kita yang hidup di era konseptual imbuh Pink, juga dituntut untuk tidak hanya pandai berargumentasi, namun juga dituntut pandai menciptakan kisah yang menarik untuk memaparkan gagasan kita. Kita tidak bisa hanya fokus di sebuah spesialisasi, tetapi kita harus mengetahui cara menggabungkan unsur-unsur yang tidak berhubungan menjadi sesuatu yang baru.
Kemudan, kita juga dituntut untuk tidak hanya berlogika, namun harus memiliki empati. Tidak hanya keseriusan, tetapi permainan. Tidak hanya akumulasi, namun juga makna.
“Sangat penting bagi kita yang hidup di era konseptual, untuk membuat koneksi seperti layaknya sebuah simfoni. Baik itu koneksi interpersonal, antar disiplin ilmu, hati ke hati, atau pun masa lalu, sekarang dan masa depan,” tulis Pink.
Oleh karena lanjut Pink, agar dapat bersaing di era konseptual, kita perlu melengkapi penalaran yang diarahkan otak kiri dengan kecerdasan yang diarahkan otak kanan yang meliputi high concept dan hight touch.
High concept (konsep luhur) mencakup kapasitas untuk mendeteksi pola dan peluang, menciptakan keindahan artistik dan emosional, serta menggabungkan gagasan-gagasan yang tampak tidak berhubungan ke dalam sesuatu yang baru.
Sementara hight touch (sentuhan tingkat tinggi) meliputi kemampuan untuk bersikap empati terhadap orang lain, memahami seluk beluk interaksi manusia, serta melewati keseharian dalam mencari tujuan dan makna.
“Sesuatu yang menjadi permintaan terbesar saat ini, bukanlah analisis, tetapi sintesis, yakni melihat keseluruhan perspektif, melintasi batasan, dan dapat mengkombinasilan bagian yang terpisah ke dalam satu kesatuan baru yang mengesankan,” demikian tulis Pink.
Saat ini nuansa era konseptual sangat terasa di kehidupan sehari-hari kita. Sekarang masyarakat tak lagi memilih dokter yang sekadar lihai mendiagnosa, namun lebih menyukai dokter yang kuat berempati dan bisa menerangkan duduk perkara penyakit dalam penjelasan yang menarik.
Pemimpin yang dihormati, bukan pemimpin yang menghabiskan waktunya untuk menggurui lalu memberi komentar yang merendahkan kinerja bawahan, melainkan pemimpin yang pandai mengubah situasi kaku menjadi menyenangkan, serta pandai memotivasi bawahan dengan sikap bersahabat, mengundang senyum dan inspiratif.
Demikian halnya dalam memilih presiden. Di era konseptual ini masyarakat tak lagi terpesona oleh pangkat dan penampilan macho. Masyarakat lebih mencintai sosok presiden yang pencipta dan pemberi simpati, serta dapat mengkombinasikan bagian yang terpisah ke dalam satu kesatuan baru yang mengesankan. Sosok ini ada pada Jokowi.
Seperti yang selalu kita saksikan pada blusukan Jokowi yang disambung dengan acara pembagian sertifikat tanah, Kartu Indonesia Sehat, Kartu Indonesia Pintar, dan Program Keluarga Harapan. Dalam acara itu, Jokowi senantiasa menyampaikan program pembangunan, mengajak rakyat menjaga keutuhan bangsa, memaparkan manfaat pendidikan karakter, ajakan mencegah korupsi dan sebagainya.
Di sela-sela acara, Jokowi membuka kuis yang jawabannya bermuatan penanaman nilai Pancasila, wawasan nusantara dan edukasi perlunya mengkonsumsi ikan. Kuis Jokowi berhadiah sepeda.
Bentuk-bentuk mata acara, antara satu dengan yang lain sebenarnya tak ada hubungan. Sertifikat tanah tak ada kaitan dengan mengkonsumsi ikan. Kartu Indonesia Sehat tak ada kaitannya dengan nama-nama pulau. Demikian sepeda, tak ada sambungannya dengan keutuhan bangsa.
Tetapi hal-hal yang tak berhubungan tersebut, di tangan Jokowi menjadi terkoneksi, penuh simpatik dn bermakna.
Mereka yang beruntung dipanggil Jokowi ke panggung pun tak gemetar berdiri disebelah Jokowi. Bahkan mereka tak segan-segan mengajak Jokowi bercanda, termasuk mengajaknya selfie.
Mereka juga tak takut salah menjawab kuis, karena tahu Jokowi tak akan mempermalukan mereka di atas panggung. Bila ada yang keliru menjawab, Jokowi justru dengan gayanya yang kocak membimbing mereka sehingga dapat menjawab dengan benar.
Oleh karena itulah acara bagi-bagi kartu dan sertifikat menjadi panggung yang menarik, sarat solusi cerdas dan cepat, penuh suka cita, cair, spontan, histeris, sekaligus menorehkan keharuan di hati masyarakat. Namun segala yang dipaparkan Jokowi tetap sampai dan diingat masyarakat.
Melihat personality Jokowi yang berbeda jauh dengan sosok lawannya di Pilpres 2019, Jokowi bakal kembali terpilih. Jokowi unggul karena personality yang ada padanya relevan dengan masyarakat era konseptual sekarang ini. (AS)
Referensi :
Pink, D.H. 2010. A Whole New Mind. Terj. Intisari Kedahsyatan Otak Kanan Manusia. Yogyakarta. Buku Biru.
SUMBER : SEWORD.COM
0 Response to "MENGAPA JOKOWI DICINTAI RAKYAT DAN AKAN TERPILIH LAGI? SIMAK YUK KINERJA BELIAU...!!!"
Posting Komentar