loading...
loading...

Presiden Jokowi dipuji dan diaminkan Dibela Ulama






Masih ingat kegaduhan-kegaduhan tahun lalu dengan tema membela ulama, bahkan sempat ada pernyataan sikap dari Presidium Alumni Aksi 212 yang mendesak Komnas HAM untuk mengeluarkan rekomendasinya bahwa razim Jokowi telah melakukan pelanggaran berat secara sistematis, masif dan terstruktur terhadap para ulama. Permintaan ini juga disertai dengan menuntut Jokowi mundur dari jabatan presiden RI. 

Nah, sekarang Jokowi masih jadi Presiden RI, Ustaz Abdul Somad masih diundang ceramah ke mana-mana, Mamah Dedeh masih siaran di televisi, banyak juga ustaz lain yang ceramah seperti biasanya, semuanya lancar-lancar saja. Dan bahkan, dalam beberapa kesempatan, Majelis Ulama Indonesia malah memuji, mendoakan dan membela Presiden Jokowi.

Saat mendampingi Presiden Jokowi dalam meresmikan Bnak Wakaf Mikro di pondok pesantren An-Nawawi di Tanara, Kabupaten Serang, Banten, pertengahan Maret lalu, Ketua MUI yang juga Rais Am PBNU, KH Ma’ruf Amin mengatakan Indonesia beruntung memiliki Presiden Joko Widodo atau Jokowi. Sebab, kata dia, Jokowi mau bersilaturahmi dan mendengarkan keinginan para kiai, ulama, dan santri.

Ma'ruf Amin mencontohkan, permintaan umat Islam agar pembangunan ekonomi umat dilakukan dari bawah, diwujudkan dengan terbentuknya Bank Wakaf Mikro (BWM), Koperasi Mitra Santri Nasional, dan Lembaga Ekonomi Umat (LEU) Mart, yang baru saja diresmikan oleh Jokowi.

"Saya bersyukur Presiden merespons aspirasi dan tuntutan umat. Oleh karena itu, MUI melakukan Kongres Umat Islam, menampung aspirasi, arus baru ekonomi Indonesia adalah pembangunan ekonomi dari bawah. Alhamdulillah Presiden merespons," kata Ma'ruf Amin. Selain itu Ma’ruf Amin juga meminta agar pondok pesantren tidak lagi dicap sebagai tempat yang radikal dan anarkistis. "Sejarah mencatat, kiai, ulama, dan santri itu membela negara. Mana ada ajaran kita (Islam) yang menyuruh berbuat anarkis," ucap Ma'ruf (liputan6.com)

Kemudian kemarin di kompleks Istana Negara, Ma’ruf Amin turut mendoakan Presiden Jokowi untuk pemilihan umum 2019. Dalam doanya, Maruf meminta agar Jokowi tetap tegar. "Tetap bekerja terus, membangun dan optimis. Dan tidak terprovokasi oleh isu macam-macam," kata Ma’ruf. Maruf menyarankan agar Jokowi juga tetap berpegang teguh dan berjalan pada khittahnya atau garis besar perjuangan.

Ini berkaitan dengan isu PKI yang sering melanda Presiden Jokowi. Jokowi dikatakan sebagai keturunan PKI atau anggota PKI. Bahkan yang baru-baru ini di media sosial beredar gambar Jokowi mendampingi DN. Aidit berpidato di tahun 1955, sehingga sempat disebut kebangetan oleh Presiden Jokowi sewaktu beliau mengungkapkannya dalam kuliah umum di Unisma, Malang.

Ma’ruf Amin juga mempertanyakan pernyataan Prabowo tentang kaum elit yang banyak bohongnya. Sebelumnya Prabowo membuat beberapa pernyataan tentang kaum elit di Indonesia. Dilansir oleh kompas.com, pada Oktober tahun lalu Prabowo mengaku kapok bergaul dengan para elite di Jakarta. Dia menilai, senyum para elite itu adalah sebuah kepalsuan. Karena itu Prabowo lebih baik melihat senyum rakyat kecil daripada harus melihat senyum para elite yang penuh kepalsuan. Dia juga menegaskan bahwa elite di Jakarta banyak bohongnya. Sehingga, meski banyak menerima undangan di Jakarta, dia lebih baik memilih untuk tidak hadir dan lebih baik menghadiri kegiatan di daerah. Menurut dia, para elite itu tidak mengerti masalah bangsa Indonesia dan kenyataan bahwa kekayaan Indonesia kini lebih banyak dikuasai asing. "Jadi elite itu pintar, pintarnya bukan main. Kadang gelarnya banyak sekali tapi tidak tahu dari mana gelar itu," tuturnya tanpa menyebut nama para elit yang dimaksud.

Kemudian hari Minggu lalu, Prabowo juga menyatakan akibat ulah para elite di Indonesia, kini perekonomian tak berpihak kepada rakyat kecil, karena para elitelah yang ada di dalam lingkaran pengambilan kebijakan di Indonesia. Prabowo menilai, mulai dari elite di pemerintahan, partai politik, hingga para pengusaha dan cendekiawan turut bertanggung jawab atas terbangunnya sistem perekonomian neoliberal di Indonesia. "Terutama elite, kita terus terang saja minta ampun, deh. Gue sudah kapok sama elite Indonesia," kata Prabowo. Belum lagi pernyataan lain tentang “Elit goblok bermental maling” yang juga memancing banyak pertanyaan.

Menanggapi hal ini Ma’ruf Amin juga ikut menanyakan siapa yang dimaksud oleh Prabowo. "Orangnya yang (dimaksud Prabowo) mana? Tunjuk saja. Yang bohongi publik yang mana?" ujar Ma'ruf. Ma'ruf pun meminta Prabowo untuk menyebutkan siapa elite pembohong yang dia maksud. "Tunjuk nama, tunjuk hidung. Jangan melempar tidak jelas."

Ma'ruf pun berharap para tokoh dan elite politik tidak terlalu mengumbar pernyataan yang menimbulkan kehebohan di masyarakat. Dia pun mengapresiasi Presiden Joko Widodo yang membuktikan diri dengan bekerja ketimbang bicara. "Makanya saya lebih suka dengan beliau ya, Pak Jokowi. Yang penting kerja, tidak usah terlalu banyak mengucapkan," ujar Ma'ruf. "Politik itu kan sebaiknya tidak diucapkan, tetapi dilaksanakan, dikerjakan,.jadi kerja, kerja dan kerja. Jangan bikin statemen yang bikin gaduh saja," kata dia.

Nah, jelas kan Presiden Jokowi dipuji dan diaminkan cara kerjanya yang jelas produktif dan mendukung kesejahteraan rakyat Indonesia. Didukung dan dibela ulama.

0 Response to "Presiden Jokowi dipuji dan diaminkan Dibela Ulama"

Posting Komentar