
Pandangan politik yang berbeda menimbulkan dinamika yang kental di tengah-tengah masyarakat. Begitu juga dinamika dalam komunitas sosial dan pekerjaan. Memiliki pandangan yang berbeda sah-sah saja,namun sayang bila pandangan politik didasarkan kebencian emosi atapun kebencian karena hasil propaganda.
Kalangan anti Jokowi, hastag ganti presiden menjadi kumandang yang mereka sering dengungkan. Tiap ada kesempatan membahas tentang Presiden, berbagai argumen miring langsung mengalir deras dari mereka yang bermula sejak Pilpres 2014 tidak suka Jokowi.
Jika melihat latar belakang pendidikan dan pekerjaan mereka yang anti Jokowi, tidak diragukan lagi. Berpendidikan rata-rata sarjana dan master dari kampus-kampus perguruan tinggi mentereng di tanah air. Akan tetapi permasalahannya, pandangan politik mereka hanya didasarkan pada Like or Dislike.
Sikap like or dislke ini didasarkan oleh berbagai faktor tentunya, misalnya literasi yang rendah, doktrin kalangan tertentu, serta arus informasi propaganda yang ditelan mentah-mentah tanpa ada verifikasi.
Parahnya kebencian terhadap Jokowi sudah begitu dalam. Setiap aktivitas yang dilakukan Jokowi dilihat sinis dan justru lahirnya hujatan. Sehingga apapun yang dilakukan Jokowi adalah salah.
Cara pandang yang digunakan dalam melihat apa yang dikerjakan Jokowi adalah negatif. Misalnya ketika Jokowi menetapkan hari libur nasional pada peringatan hari lahir pancasila dianggap tidak ada gunanya. Kampanye #SayaJokowi #SayaPancasila dianggap tidak perlu. Lebih parah lagi ini dianggap sebagai suatu kebodohan.
Masih terkait Pancasila, pembentukan UKP Pembinaan Ideologi Pancasila dinilai akal-akalan dan tidak perlu ada lagi. Sehingga niat baik Jokowi dalam menanamkan Pancasila untuk memupuk kebhinnekaan adalah hal yang salah dalam perspektif mereka.
Ketika berbicara tentang kemajuan yang dilakukan oleh pemerintahan Jokowi dalam pembangunan infrastruktur, hal sinis juga berlanjut. Padahal mereka bisa membandingkan sendiri pembangunan yang dilakukan era pemerintahan SBY dan Jokowi. Mereka juga tau pasti bahwa kemajuan pembangunan yang dilakukan sekarang gila-gilaan. Bahkan karena pembangunan infrastruktur yang dilakukan oleh Jokowi, mereka banyak yang dapat pekerjaan dan pembelajaran. Namun sayang seribu sayang, fakta ini diabaikan. Bahkan cacian terhadap Jokowi tetap mengalir dari mereka.
Fakta kemajuan pembangunan infrastruktur dibantah dengan argumen bahwa itu adalah tanggung jawab setiap presiden untuk membangunnya. Jadi fakta ini menjadi seolah persoalan yang gampang. Sebab menurut mereka, perencanaan pembangunannyan banyak yang sudah dilakukan pada era SBY. Jadi bagi mereka, Jokowi hanya tinggal melanjutkan saja. Mereka tidak bisa melihat lagi bahwa banyak pembangunan mangkrak di era SBY. Dan pembangunan infrastruktur di era Jokowi banyak hal sangat positif dan menggembirakan. Sayangnya buta terhadap hal ini walau menyaksikan langsung realitas yang terjadi.
Kembali ke Pilpres 2019, para anti Jokowi telah bersatu padu dengan kampanye #GantiPresiden2019. Perjuangan telah tiba untuk melampiaskan ketidaksukaan atas Jokowi. Namun yang pasti, dasar ketidaksukaan bukan karena kinerja, tetapi ke persoalan like or dislike.
Saat saya tanya, kalian mau ganti presiden 2019, terus mau digantikan oleh siapa? Mereka hanya menjawab belum tahu, sebab belum ada calonnya. Disinilah letak persoalan krusialnya. Krusial karena mereka punya pandangan politik tetapi dibutakan oleh ketidaksukaan yang mengalahkan daya kritis otak rasional.
Tidak masalah jika ingin ganti presiden 2019, tetapi harusnya punya dasar kriteria yang diinginkan menjadi presiden dan ada tujuan jelas yang ingin dicapai. Bukan hanya semata-mata ingin ganti presiden. Permasalahannya, hal dasar ini hilang dari letak pandangan mereka sehingga kasihan dengan apa yang terjadi. Istilahnya penumpang dipaksa harus turun pesawat terbang untuk sampai pada kota tertentu hanya karena tidak suka pilotnya, namun pesawat yang akan ditumpangi belum ada dan belum jelas.
Kita harus rendah hati mengakui bahwa banyak hal yang belum tercapai di pemerintahan Jokowi. Tentu ini menjadi catatan penting. Tetapi kita juga harus mau mengakui bahwa banyak sekali kemajuan dan perbaikan yang telah dilakukan pemerintahan Jokowi. Itu adalah fakta penting yang harus diakui juga.
Terkait Pilpres 2019, jika memang ada calon yang lebih baik dan bisa membuktikan dirinya lebih baik dari Jokowi, seharusnya masyarakat Indonesia memilih dia. Karena kita rugi bila ada pemimpin yang lebih baik, tetapi dilewatkan. Prinsip ini yang dulunya selalu diajarkan Ahok kepada masyarakat Indonesia.
0 Response to "CURHAT PARA ANTI JOKOWI"
Posting Komentar