
Dituding dengan berbagai macam tuduhan sudah bukan barang baru buat Jokowi. Yang bikin ngakak adalah jika tuduhan itu tak masuk akal dan mengada-ada. Yang bikin lebih ngakak lagi jika tuduhan itu dilontarkan oleh pihak-pihak yang justru melakukan hal-hal lebih parah dari yang mereka tuduhkan pada orang lain, dalam hal ini Jokowi. Mereka menuduh Jokowi X. Padahal kelakuan mereka sendiri X plus plus. Itulah tuduhan tak tahu diri yang tak berkaca dirinya sendiri seperti apa.
Serangan tudingan tak tahu malu seperti ini bisa terjadi akibat pihak oposisi memang sudah tak tahu lagi harus menjatuhkan Jokowi dengan cara yang bagaimana?? Adu program kalah telak. Hujatan dan caci maki tak mempan. Jokowi cuek bebek tak pernah menanggapi satu patah katapun. Fitnahan-fitnahan yang kemas sedemikian rupa juga lama-lama terbongkar dengan sendirinya.
Segala daya upaya mereka lakukan untuk menjatuhkan Jokowi. Keseringan dan keasikan menyerang semacam ini membuat persediaan peluru mereka makin lama makin menipis. Sementara Jokowi sebagai pihak yang diserang tetap kokoh berdiri tak bergeming sedikitpun. Akibatnya, peluru yang dipakai jadi sekenanya. Sedapatnya yang penting ada serangan. Serangan norak tak masalah. Yang penting menyerang.
Keadaan semacam ini secara tak langsung membuktikan dengan sendirinya bahwa pihak oposisi sudah mulai frustrasi tak tahu lagi harus menjatuhkan Jokowi dengan cara yang bagaimana. Isu PKI sudah. Isu antek asing sudah. Isu antek Cina sudah. Isu kriminalisasi ulama sudah. Isu rezim anti Islam juga sudah. Bingunglah mereka harus pakai isu apalagi untuk menyerang Jokowi. Akhirnya comot saja sekenanya pakai isu mengada-ngada yang justru membuka kekurangan mereka sendiri. Isu yang dipakai juga kadang dibalut kritikan agar tampak elit dan berkelas. Sayangnya kritikan yang dilontarkan malah jadi bumerang menyerang diri mereka sendiri.
Yang masih hangat adalah kritik revolusi mental yang dilontarkan AHY. Dengan penuh percaya diri AHY menyerang Jokowi tentang revolusi mental sambil menebalkan diri menutup mata terhadap kenyataan revolusi mental di era SBY yang ancur minah ancur seancur-ancurnya. Kritikan AHY justru jadi serangan balik yang sangat mematikan buat SBY, ayah AHY. Langsung mati kutu dengan sendirinya. Ikuti pembahasannya dalam artikel berikut ini.
https://seword.com/politik/ahy-serang-jokowi-soal-revolusi-mental-ahy-lupa-era-bapaknya-seperti-apa-B1iTIE2em
Lucunya, saat netizen mengkritik poster AHY, Sang Ketua Kogasma Partai Demokrat yang sedang mengkampanyekan sektor ekonomi kreatif dan kearifan lokal sambil memakai sabuk LV (Louis Vuitton) yang sama sekali tidak mewakili produk lokal Indonesia, Partai Demokrat langsung menanggapi hal ini untuk menyerang Jokowi.

"Nyinyir tentang sabuk dan baju AHY tersebut hanya sebuah upaya menjatuhkan AHY dari terus meningkatnya elektabilitas politiknya. Sepertinya ada yang kuatir dan ketakutan terutama pendukung penguasa," kata Ferdinand Hutahaean, Kadiv Advokasi dan Bantuan Hukum DPP Partai Demokrat yang meyakini ada kekhawatiran dan ketakutan dari pendukung penguasa sehingga meributkan hal remeh temeh. Kritik tidak lagi kepada hal-hal substansial.
Ujung-ujungnya Partai Demokrat menyeret gaya Presiden Jokowi yang punya motor chopper dan kerap memakai sneakers produksi Nike. Lhadhalaaaaa……..
Ngakak khan jadinya. Yang ngomongin AHY netizen, yang diserang balik malah Jokowi. Hubungannya dimana coba??? Kalau Partai Demokrat memang gagah, diserang netizen soal sabuk LV ya jawablah dengan penjelasan tentang sabuk LV itu sendiri, bukan malah menyerang Jokowi soal motor chopper dan sneakers Nike Jokowi. Buktinya soal kritikan revolusi mental juga kami jawab dengan data dan fakta tentang revolusi mental, bukan tentang hal-hal lain di luar itu. Aaaahhh sudahlah, semua memang salah Jokowi kok. Wekekekeke……
Ada satu kejadian lagi yang tak kalah lucu dengan kejadian-kejadian yang sudah saya ceritakan di atas. Sehubungan dengan adanya sejumlah akun Twitter yang dibekukan, salah satunya adalah akun @LawanPolitikJKW kepunyaan Kadiv Advokasi dan Bantuan Hukum DPP Partai Demokrat Ferdinand Hutahaean. Partai Demokrat memprotes keras hal tersebut lalu membandingkan pemerintahan Presiden SBY dengan Presiden Jokowi. Pemerintah Jokowi dituduh represif dan membungkam kebebasan berpendapat dan berekspresi.
"Tidak salah kemudian kita berpikir pemerintah sekarang represif dan membungkam kebebasan berpendapat dan berekspresi kan. Karena bertubi-tubi ini dari kejadian foto yang diunggah Pak Amien Rais yang dikenal oposan terhadap pemerintah hari ini mendadak dihapus Instagram, dan hari ini beberapa akun Twitter termasuk akun teman kami Ferdinand Hutahaean yang di media sosial dikenal kritis kepada pemerintah malah di-suspend, kan memang terjadi di pemerintahan sekarang ini. Belum lagi di benak publik kan memang telah terbangun kesan, terkait kebebasan berekspresi dan berpendapat ini, pemerintah sekarang memang 'telinganya lebih tipis' dibanding pemerintahan Pak SBY," kata Ketua DPP Demokrat Jansen Sitindaon, Kamis, 14 Juni 2018.
Astaga banget khan ya berhadapan dengan orang-orang yang seperti ini. Koplak dan konyolnya kebangetan. Memangnya jika ada pembekuan akun Twitter, Instagram, Facebook dan aplikasi medsos lainnya Jokowikah yang melakukannya? Atas perintah Jokowikah pembekuan itu dilakukan? Emangnya siapa Jokowi sampai bisa punya jurusan ke arah situ? Nyuruh-nyuruh Jack Dorsey, Noah Glass, Biz Stone, Evan Williams, Mark Zuckerberg, Kevin Systrom selaku pendiri Twitter, Facebook dan Instagram.
Menkominfo Rudiantara sendiri sudah membantah pembekuan sejumlah akun Twitter ini ada kaitannya dengan pemerintah. Pihaknya tidak memberi perintah apa-apa.
"Saya sudah cek di kantor dan pastikan tidak ada permintaan suspend atau take down dari Kominfo," kata Rudiantara.
Jansen terus melanjutkan nyanyian sumbangnya,
“Pak SBY yang dibawain kerbau aja santai-santai aja. Serangan dan tuduhan oposisi yang sekarang ganti berkuasa juga tidak kalah kerasnya pada masa itu. Tapi beliau santai aja. Itulah Demokrasi. Telinga pemimpin harus tebal, bukan dikit-dikit main hukum dan bungkam. Yang pensiunan militer di masa pemerintahannya tidak memberangus ruang-ruang demokrasi dan kebebasan berekspresi, kok zaman now yang dipimpin kalangan sipil malah gayanya melebihi era Pak SBY yang notabene militer yang selama ini dikenal galak dan keras."
Lhaaa….. lucu banget khan marah-marahnya. Ngga nyambung. Sementara saya sendiri juga sudah pernah mengalami akun medsos saya dibekukan 1 hari oleh pemilik sistem aplikasi yang bersangkutan. Menuduh Prabowopun tak ada sama sekali dalam benak saya. Ngoahahahaha……….. Mbok ya bilang saja terus terang Partai Demokrat lagi kegatelan pengen ngatain Jokowi, dalam hal ini ngatain Jokowi bertelinga lebih tipis dari SBY. Iya apa iya. Xixixixi……..
Padahal, yang punya telinga lebih tipis sebenarnya yang mana??? Haruskah aku mencolek Pak Mantan yang hobi bikin konpers curhat sana sini tak tahan dengan segala gejolak yang ada. Belum lagi istri Pak Mantan yang juga terkenal galak di medsos akibat hati dan telinganya terlalu tipis saat mendengar sang suami dan anak-anaknya tercinta mendapat kritikan. Bandingkan dengan Jokowi dan keluarganya yang sama sekali tak pernah menanggapi sejahat apapun fitnahan yang mereka alami. Bahkan saat Bu Iriana dihina sebagai pelacur, Mas Gibran justru berkata, “Biarin. Dimaafkan saja.” Serangan telinga tipis sudah terbukti gagal. GAGAL TOTAL
Dari sejumlah serangan yang semacam ini, saya akhirnya menyimpulkan bahwa pihak oposisi memang sudah kehabisan akal sekaligus kehabisan cara untuk menjatuhkan Jokowi dengan cara yang elegan. Akhirnya cara-cara norak dan konyolpun tetap ditempuh oleh mereka. Lumayan juga sih. Setidaknya Seword bisa punya banyak bahan untuk ditulis. Kita juga bisa jadi punya banyak kesempatan untuk ngakak bersama.
Namun, yang harus kita ingat bersama, panik dan frustrasinya kubu oposisi tetap harus kita waspadai. Serangan-serangan konyol semacam ini bisa berubah menjadi serangan kalap menghalalkan segala cara kapan saja mereka mau.
Mari kita camkan bersama dalam hati dan pikiran kita. Ahok boleh tumbang. Kita harus bisa menerima kenyataan pahit ini dengan lapang dada. Ahokpun sudah rela menjalani ini semua dengan ikhlas. Takkan ada ceritanya lagi Ahok kedua, ketiga dan seterusnya. Cukup Ahok yang jadi korban keganasan politikus-politikus busuk yang rakus akan kekuasaan. Mari kita jaga Jokowi. Jangan biarkan Jokowi berjuang sendirian. Menjaga Jokowi sama dengan kita menjaga NKRI. Itu sumpahku pada Ibu Pertiwi!!!
0 Response to "Demokrat Tuding Telinga Jokowi Lebih Tipis Dari SBY. Gejala Pihak Oposisi Makin Frustrasi"
Posting Komentar