loading...
loading...

Kampanye Hastag dan Kaos 'Ganti Presiden 2019' yang Blunder






Hastag #GantiPresiden2019 di twitter sudah mencapai 17,9 ribu. Pernyataan ini bermula dari Partai Gerindra dan PKS. Bahkan, hastag tersebut dibuatkan kaos. Sepertinya, kedua partai tersebut sangat faham dalam permaian branding di sosial media. Akan tetapi, hal ini bukan sebuah prestasi yang dibanggakan. Kita sendiri siapa yang mensupport saracen dan MCA?

Akan tetapi, kita perlu cerdas dalam menggunakan sosial media. Jumlah tersebut bukan berdasarkan jumlah perngguna sosial media. Artinya, ada banyak pengguna sosial media yang tidak ikut campur dalam penggunaan hastag tersebut. Berapa pengguna twitter di Indonesia?


Indonesia merupakan negara dengan pengguna aktif twitter ketiga terbesar dunia. Dalam rilis Statista disebutkan pengguna aktif twitter Indonesia per Mei 2016 mencapai 24,34 juta. Jumlah pengguna tersebut akan meningkat di Indonesia. Jika dibandingkan dengan hastag tersebut masih jauh dengan jumlah pengguna twitter.

Akan tetapi teranyar Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia ( APJII) jumlah pengguna internet di Indonesia. Saat ini, Populasi penduduk Indonesia saat ini mencapai 262 juta orang. Lebih dari 50 persen atau sekitar 143 juta orang telah terhubung jaringan internet sepanjang 2017. Kalangan mana saja yang banyak menggunakan sosial media. Dari jumlah 143 juta pengguna internet sebanyak 49,52 persen pengguna internet di Tanah Air adalah mereka yang berusia 19 hingga 34 tahun.

Lalu, di mana mayoritas pengguna internet berasal dari kelas menengah ke bawah. Dari 143 juta masyarakat Indonesia yang sudah terkoneksi internet, ada sekitar 62,5 juta masyarakat kelas menengah ke bawah yang menggunakan internet. Sedangkan masyarakat kelas atas sebesar 2,8 juta jiwa. Dengan booming hastag tersebut, nampaknya kita tahu siapa yang sedang dibidik. Pertama usia milenial yang hari ini sedang dibidik. Sebab, kita tahu bagaimana kelas milenial dalam ranah perpolitikan. Di sisi lain, mereka sangat produktif dan di sisi lain juga mereka menjadi kalangan yang apatis.

Walaupun begitu, jumlah penggunaan hastag tidak bisa menjadi tolak ukur jumlah rakyat yang ingin presiden. Jumlah pengguna hastag, tidak bisa disamadengankan dengan jumlah penggunanya. Mungkin saja, satu orang pengguna twitter bisa kultwit hingga puluhan kali. Sehingga, hastag tersebut menjadi trending topik. Kita perlu mengingatnya.

Hal lainnya, hari ini kaos bertuliskan ‘Ganti Presiden 2019’ hanya dijual oleh Partai Gerindra dan PKS. Hari ini kita harus mempertanyakan berapa jumlah penggunanya. Berapa buah kaos yang terjual. Jangan sampai, penjualan kaos ini masih dibawah satu juta orang. Jika pembeli kaos sama dengan orang yang ingin mengganti presiden, berapa jumlahnya? Adakah jumlah yang kongkrit? PKS dan Partai Gerindra tidak bisa menjawabnya.

Artinya, penggunaan hastag dan kaos tidak bisa menggambarkan mayoritas masyarakat yang ingin mengganti presiden. Riset dan logika tersebut tidak bisa dibenarkan. Hastag yang hari ini menjadi trending topik ini, tidak perlu kita tanggapi dengan serius. Mereka hanya menyerang dan membrending hal-hal yang tidak usah dipermasalahkan.


Permainan kaum sebelah mengenai Indonesia yang akan hancur yang tidak memiliki data. Serta sertifikat tanah yang notabanenya sangat berpihak kepada rakyat. Saya mengerti, kenapa hastag tersebut sangat booming dan terkesan penggantian presiden ini sangat urgen, dua pengelolaan isu tersebut tidak mempan kepada Jokowi dan pemerintahan yang ada. Dua itu itu, tidak membuat pemerintahan panik. Bahkan, beberapa menteri membungkam si pembicara data palsu diam.

Di sisi lain, dengan munculnya hastag tersebut kaum sebelah masih belum menyiapkan sosok dalam melawan Jokowi. Hari ini, kita tahu Jokowi sudah mendeklarasikan diri sebagai calon presiden. Arah Partai Gerindra semakin tidak karuan. Saat ini, Prabowo nampak lesu menghadapi Pilpres 2019. Di mana dirinya enggan maju menghadapi Jokowi kembali. Tarik ulur seperti ini seolah membenarkan terjadi minimnya logistik untuk Pilpres 2019. Selain itu, sejumlah anggota Partai Gerindra pun tidak menyebutkan secara gamblang keuangan partai.

Kost untuk membiayai sejumlah demo pada Pilkada DKI nampaknya cukup besar. Serta biaya hidup Rizieq Shihab yang tak kembali membuat Prabowo harus putar otak. Sehingga, saat ini Partai Demokrat seolah ingin mengusung Gatot Nurmantyo. Sebelumnya, Partai Gerindra ngotot mengusung Ketum Prabowo Subianto untuk berlaga di Pilpres 2019. Namun, hingga saat ini Prabowo memiliki beberapa pertimbangan dan belum menyatakan sikap.

Gerindra menyebut Prabowo dideklarasikan pada 11 April nanti. Namun hal itu pun dibantah oleh Prabowo yang menyebut bahwa 11 April hanya agenda rapat kerja nasional (rakernas). Ketua DPP Gerindra Desmond J Mahesa menerangkan kader DPD Gerindra pada rakernas sebelumnya telah sepakat mendorong Prabowo untuk maju di 2019. Namun, menurut Desmond J Mahesa, Prabowo mengakui bahwa dirinya enggan siap maju karena faktor usia dan elektabilitas. Di sisi lain, Gatot Nurantyo sudah mendeklarasikan diri sebagai calon presiden. Hanya saja tidak memiliki partai sebagai alat untuk maju. Bahkan, Gatot sudah memiliki.

0 Response to "Kampanye Hastag dan Kaos 'Ganti Presiden 2019' yang Blunder"

Posting Komentar