loading...
loading...

Apa yang Diucapkan SBY, Hanya Sebatas Lipstik Servis






Saya cukup aneh dengan Presiden ke-6 Indonesia, Susilo Bambang Yudhoyono (SBY). SBY berharap para pemimpin bangsa ini saling mendukung, bahu-membahu mencarikan solusi untuk mengatasi persoalan masyarakat. SBY ngutaraan hal tersebut dalam Tour de Jatim Partai Demokrat" di Sragen, Sabtu lalu (7/4/2018).

SBY juga mendoakan Bangsa Indonesia agar damai dan semakin bersatu. Ia juga berharap ekonomi kembali tumbuh, agar kehidupan rakyat bisa sejahtera. Karena itu, SBY berharap para pemimpin bangsa ini agar saling mendukung, bahu-membahu mencarikan solusi untuk mengatasi persoalan masyarakat.

Ucapan SBY tersebut, nampaknya lupa bahwa dirinya yang selalu mengkritik tanpa aksi yang telah dilakukan. Selama lima tahun terakhir, Partai Demokrat yang hanya menempati posisi legislatif hanya bisa berkomentar dan melakukan lobi-lobi politik. Tercatat, dalam rapat paripurna, Partai Demokrat tidak tahu kemana arah gerakan yang diinginkan sebagain besar rakyat Indonesia.

Pertama tentang Sikap abu-abu ditunjukkan Partai Demokrat dalam sidang paripurna pengesahan Perppu Ormas. Saat memberikan pandangan fraksi, anggota Fraksi Demokrat Fandi Utomo menegaskan partainya mendukung pengesahan Perppu Ormas asalkan ada revisi setelah disahkan menjadi undang-undang.

Sikap ini berbeda dengan fraksi-fraksi lain yang secara tegas menolak atau mendukung pengesahan Perppu Ormas. Barisan partai pendukung pemerintah yaitu PDIP, Golkar, Hanura, Nasdem, PKB, dan PPP kompak mendukung Perppu Ormas sementara PKS, Gerindra dan PAN konsisten menolak.

Kedua, dalam Rapat Paripurma RUU Pemilu. Fraksi Partai Demokrat tetap memilih opsi ambang batas syarat pencalonan presiden atau presidential threshold 0% dalam memutuskan lima isu krusial di Rapat Paripurna RUU Pemilu. Serupa Demokrat, Partai Gerindra juga tetap pada pendiriannya, tanpa presidential threshold

Bagi saya dua hal tersebut cukup memberikan catatan bagaimana perpolitikan Partai Demokrat selama Jokowi memimpin. Selain itu, SBY juga memberkan kritik tanpa solusi yang ril. Dia hanya mempertegas dalam pernyataan ‘berharap’. Ini sungguh hal yang klasik. Bahkan, tidak jarang SBY membuat gaduh di sosial media. Bagaimana mungkin bisa saling bahu-membahu untuk membangun Indonesia.

Walaupun begitu, saya masih terkesan dengan SBY. Di mana SBY tidak memberikan data palsu untuk menakut-nakuti masyarakat luas. Kembali pada pembahasan pertama, SBY dalam orasinya mengungkapkan, Partai Demokrat akan mendukung setiap pemimpin di Indonesia untuk berjuang membantu nasib rakyat.

Terlebih, pada acara tersebut merupakan salah satu ajang kampanye untuk memilih Khofifah di Pilgub Jatim. Kita sama-sama tahu siapa Khofifah. Khofifah memiliki kedekatan dengan Jokowi. Walaupun tidak didukung oleh PDI Perjuangan, Khofifah tetaplah menjadi orang kepercayaan Jokowi. SBY sempat berdialog dengan sejumlah warga dan memberikan kuliah umum terkait dunia usaha. SBY memberikan sejumlah masukan dan motivasi agar pelaku UMKM bisa kian berkembang.

Sikap Partai Demokrat ini, disebabkan adanya sejumlah Pilkada serentak di banyak wilayah di Indonesia. Hari ini, masyarakat masih sangat terkesan dengan sejumlah calon yang berasal dari trah partai Jokowi. Dalam pandangan saya, SBY hanya mengambil simpati rakyat. Hingga tahun depan, Partai Demokrat harus cerdas mengambil hati rakyat. Adanya pilkada serentak adalah ajimumpung untuk kampanye dalam skala global di Pileg 2019.


Selain itu, beberapa waktu lalu SBY mengisyaratkan dukungan kepada Presiden Joko Widodo di Pilpres 2019 hanya kesopanan politik saja. Sikap 'mesra' SBY-Jokowi dinilai hanya bagian dari etika politik. Hal ini sama halnya dengan ucapan SBY dalam safari politiknya di Jatim. Sebelum adanya pembuktian deklarasi dukungan hal itu hanya sebatas kesopanan politik.

Dalam rakernas Partai Demokrat, SBY sedang bermain drama. Bahkan, tidak lebih sedang mempertontonkan kesopanan politik saja. Misalnya waktu Jokowi ajak AHY pukul gong, itu juga kesopanan politik, karena AHY antar undangan ke Istana. Demokrat masih mengupayakan untuk memang mendorong sendiri dan tidak tergabung dengan Jokowi, memang walaupun kemungkinan itu ada. Partai berlambang bintang mersi itu tidak hanya mengusung satu nama dalam Pilpres 2019, tapi juga terdapat beberapa kader yang dianggap kompeten dalam urusan kenegaraan.

Menurut Pengamat Politik Universitas Paramadina, Hendri Satrio, pada Pilpres bukan hanya AHY yang berpotensi pada Pilpres 2019. Yakni, Tuan Guru Bajang (TGB), mungkin kalau disodorkan TGB Jokowi siap juga berkoalisi dengan Demokrat. SBY menuturkan koalisi dalam pemenangan pilpres bisa berjalan secara baik jika memiliki kerangka kebersamaan yang tepat.

0 Response to "Apa yang Diucapkan SBY, Hanya Sebatas Lipstik Servis"

Posting Komentar