
Rizieq menjadi komoditas yang cukup laris jika ada pergelaran politik. Meskipun Rizieq tidak ikutan nyalon, tapi suaranya cukup berpengaruh. Rizieq sendiri ideologi politiknya tidak jelas. Pada intinya, siapa yang berhasil mendekatinya, Rizieq akan mendukung orang tersebut. Rizieq mau mengerahkan umatnya untuk mendukung salah satu calon asalkan kepentingannya terpenuhi. Rizieq ingin FPI bisa berdakwah tanpa ada perlawanan dari masyarakat atau dari pemerintah.
Pada pilkada DKI, kita bisa melihat Rizieq yang notebene tokoh agama bisa bersekutu dengan Gerindra yang notabene partai nasionalis. Gerindra identik dengan PDI P dan Demokrat. Tapi hal tersebut tak membuat Rizieq menolak bersekutu dengan Gerindra. Rizieq dan Prabowo bahu membahu memenangkan Anies di Pilkada DKI Jakarta dengan berbagai cara. Kebetulan Gerindra yang terlebih dahulu punya inisiatif untuk mendekati Rizieq. Partai-partai lain seperti PDI, Nasdem, PKB, dan PPP enggan untuk mengajak Rizieq bersekutu. Pasalnya, Rizieq dan FPI lebih terkenal citra buruknya dibanding citra baiknya.
Tapi hal itu tak diperdulikan sama sekali oleh kubu Prabowo. Dan terbukti dengan menggandeng Rizieq, Anies yang sama sekali tidak diperhitungkan justru berhasil memenangkan Pilkada DKI dengan kemenangan yang cukup telak.
Keberhasilan Rizieq membantu kemenangan Anies membuat Prabowo ketagihan. Prabow hendak kembali menggunakan jasa Rizieq di Pilpres 2019. Namun sayangnya, karena kasus Chat Sex, Rizieq jadi kabur ke Arab. Keinginan Prabowo untuk kembali menggunakan jasa Rizieq sedikit terkendala. Namun hal itu tidak menyurutkan niat Prabowo.Prabowo bahkan sampai rela melakukan umroh politik, hanya untuk mengunjungi Rizieq untuk mengemis dukungan.
Awalnya, orang-orang terlihat bersepakat hendak menjadikan Prabowo sebagai penantang serius Jokowi. Rizieq pun terlihat sudah mantap hendak mendukung Prabowo serta mengerahkan umatnya untuk total dalam mendukung. Namun karena politik begitu dinamis, orang-orang yang awalnya terlihat hendak mengusung Prabowo ternyata memiliki ambisi pribadi. Setelah Gatot, Amien Rais menyusul sebagai orang yag berambisi untuk nyapres.
Suara FPI dan simpatisan Rizieq juga sebenarnya tidak bulat mendukung Prabowo. FPI ingin mendukung capres yang pintar agama. Sebenarnya Prabowo tidak masuk kreiteria. Tapi karena Rizieq mendukung Prabowo, FPI akan ikut langkah Rizieq.
Diantara mereka juga ada yang menginginkan capres yang benar-benar pintar agama seperti TGB. Ada juga yang menginginkan Gatot untuk maju. Gatot yang baru lengser dari jabatan panglima TNI dianggap layak jadi presiden. Tapi ketika Rizieq mendukung Prabowo, mayoritas suara FPI kemungkinan akan ikut Rizieq.
Nah, setelah Rizieq membentuk koalisi keummatan (Gerindra, PKS, dan PAN) dengan mengusung Prabowo sebagai capres, tiba-tiba Amien Rais melakukan manuver. Dia terinspirasi kemenangan Mahathir. Ambisi nyapres yang sempat padam kembali menyala-nyala. Meskipun Amien Rais sama sekali tidak masuk bursa capres, dirinya tak peduli. Dirinya tetap menegaskan ingin nyapres di 2019. Amien Rais nampaknya lupa sebelumnya telah bertemu Rizieq membentuk koalisi keummatan mengusung Prabowo jadi capres.
Nah, setelah Amien Rais menginginkan nyapres, saya bayangkan Rizieq dan FPI menjadi bingung hendak mendukung siapa. Orang-orang yang selama ini satu kubu ternyata sama-sama ambisius ingin nyapres. Baik Gatot, Prabowo, maupun Amien Rais, sama-sama ingin nyapres. Tidak ada yang mau mengalah untuk lebih mendahulukan orang lain.
Rizieq yang sebelumnya membentuk koalisi keummatan kemungkinan juga dibuat bingung sendiri. Rizieq bingung kok Amien Rais bisa secepat itu berubah pikiran. Perasaan koalisi keummatan baru seumur jagung. Namun karena ambisi Amien Rais, koalisi keummatan kemungkinan hanya tinggal nama. Tapi sebenarnya koalisi keummatan memang masih sebatas nama. PKS dan PAN sejatinya belum ingin berkoalisi secara serius dengan Gerindra.
Saya membayangkan FPI dan PA 212 sedang dibuat bingung sendiri. Di satu sisi, Rizieq mendukung Prabowo. FPI dan PA 212 pun sepertinya akan ikut mendukung Prabowo. Namun ketika Amien Rais ingin nyapres, PA 212 juga merasa tidak etis kalau tidak mendukung Amien Rais. Pasalnya, Amien Rais adalah dewan kehormatan PA 212. Hehe
Kalau sudah seperti ini, dibanding mendukung yang tidak pasti, mending Rizieq, FPI, dan PA 212 mendukung yang sudah pasti. Lebih baik mendukung Jokowi yang sudah bulat diusung oleh beberapa partai. Jokowi sudah mantap melangkahkan kakinya menuju Pilpres 2019, namun kubu lawan masih rebutan nyapres. Masing-masing berambisi ingin nyapres. Hehe
0 Response to "Amien Rais dan Prabowo Ingin Nyapres, Rizieq dan FPI Mau Dukung Siapa?"
Posting Komentar