loading...
loading...

Sadis! Masjid, Kakbah, Hingga Allah Dipolitisasi, Awas Dilaknat Allah!





Politik ibarat permainan teka-teki. Terkadang mudah ditebak, dan terkadang penuh misteri yang jawabannya hanya akan kita ketahui di akhir permainan. Ada pula orang menyebut bahwa politik itu kotor. Aksi tipu-tipu yang kerap dipertontonkan oleh para politikus di gedung DPR yang mewah itu, seakan membenarkan pernyataan itu.

Namun, terlepas dari dunia politik yang jorok itu, politik juga menjadi topik yang teramat seksi untuk dibicarakan. Tak jarang pula dua pihak yang berbeda pandangan, hingga harus beradu jotos untuk mempertahankan pendapatnya. Begitulah politik. Sekalipun politik itu katanya kotor, namun ada banyak orang yang senang bermain di dalam kekotoran itu.


Dari politik kita jadi tahu apa itu pencitraan. Dari politik, kita jadi tahu apa itu kebohongan dan kemunafikan. Dari politik kita jadi tahu apa itu pengibulan. Tetapi, dari politik, kita juga jadi tahu apa itu ketulusan dan keiklhasan, kita juga jadi tahu apa itu kejujuran dan kerelaan berkorban untuk orang banyak. Semuanya tergantung siapa yang berpolitik.

Ada orang terjun ke dunia politik karena memang benar-benar terpanggil untuk memperbaiki nasib orang banyak, karena benar-benar ingin membaktikan dirinya untuk menyejahterakan para kaum papa. Karena salah satu cara tercepat untuk membangun masyarakat adalah lewat panggung politik.

Namun ada pula orang masuk ke panggung politik hanya untuk kepentingan dirinya, keluarga, atau kelompoknya. Mereka rela merogoh kocek dalam-dalam hanya untuk memenuhi ambisinya. Ada pula orang yang memilih keluar dari pekerjaannya, mundur dari jabatannya, hanya karena daya tarik politik yang sangat menggoda selera.

Berbagai kemudahan serta kemewahan yang ditawarkan oleh politik tersebut, membuat orang terkadang kalap, yang cenderung bertindak aneh dan tidak wajar. Segala upaya ditempuh demi menggapai tujuannya. Acap kita menyaksikan seorang calon kepala daerah, atau calon legislatif, melakukan politik uang demi memuaskan nafsu politiknya.

Cara lain adalah dengan mempertopeng agama. Belakangan ini, ada politikus yang kelihatannya suci, yang senantiasa berbicara agama, tetapi pikirannya begitu kotor dan picik. Mereka tidak benar-benar sedang meninggikan nilai-nilai agama. Namun, mereka justru menjual agama untuk memengaruhi mereka yang ilmu agamanya sangat minim.

Agama menjadi topeng politik. Semestinya, politik terpisah dengan agama. Sebagaimana himbauan Presiden Jokowi, supaya jangan mencampur-adukkan agama dengan politik. Namun, hal itu, dibantah oleh Amien Rais. Dia tidak setuju. Dia justru menganjurkan supaya dalam acara-acara keagamaan tetap menyisipkan pembicaraan tentang politik.

Menurutnya agama dan politik tidak terpisahkan. Dalam setiap ceramahnya, tatkala dia diundang untuk menyampaikan tausiyah di masjid-masjid, pembicaraan tentang politik tidak lupa dia sisipkan. Dia berusaha memengaruhi pola pikir para pendengarnya dengan cara pandangnya yang sesat. Tausiyahnya justru didominasi ceramah berbau politik.

Masjid menjadi ajang untuk berpolitik. Masjid dipolitisasi. Masjid menjadi tempat baginya untuk menghujat lawan politiknya. Tidak ada ketakutan dalam dirinya. Tidak ada rasa gentar dalam hatinya. Masjid yang semestinya tempat untuk mendamaikan hati dari segala nafsu dan ambisi dunia, namun Amien Rais justru menjadikannya sebagai sarang cacian.

Suasana damai, sejuk, dan teduh di rumah Allah itu, tetapi oleh tausiyah Amien Rais, berubah menjadi suasana yang penuh dendam, penuh murka, dan penuh kebencian terhadap sesama anak bangsa, kebencian terhadap sesama ciptaan Tuhan. Bukan justru menyampaikan pesan tentang kebenaran dan kesabaran, tapi justru menyebar kebencian.


Allah SWT, juga ikut dipolitisasi oleh Amien Rais. Dia menjadikan Allah yang Mahatinggi itu serendah pikiran kotornya, serendah nafsu politiknya, serendah kebenciannya terhadap lawan politiknya. Dia seakan-akan memosisikan dirinya sebagai seorang yang sangat dekat dengan Allah, sehingga setiap orang yang tidak sepaham dengannya, disebutnya setan.

Berbeda cara pandang dengan Amien Rais adalah setan. Bagi mereka yang memihak kepadanya adalah kaum Allah. Amien Rais sudah menempatkan dirinya sama dengan Tuhan. Dia dapat menentukan siapa yang akan masuk surga dan siapa yang akan menghuni neraka. Sesungguhnya, masuk surga atau neraka, adalah hak prerogatif Allah.

Begitu pula pernyataan Amien Rais yang menyebut bahwa Jokowi akan segera dilengserkan oleh Allah. Wah, hebat benar Amien Rais ini. Allah yang mana sebenarnya yang dimaksudkan oleh Amien Rais. Kapan pula Allah memberitahukan tentang lengsernya Jokowi kepada Amien Rais, sehingga dia begitu pede menyampaikannya.

Masjid sudah dipolitisasi. Pun Allah, juga sudah. Lengkaplah sudah. Satu lagi yang tersisa, Kakbah, sudah juga dipolitisasinya. Dia bersama Prabowo, beserta rombongan begitu riangnya berfoto di depan Kakbah. Mereka seperti ingin memamerkan kebersamaan mereka di tanah suci. Ibadah tidak perlu dipamerkan. Ibadah semestinya untuk menyucikan hati.

Dan ternyata, berfoto-foto di depan Kakbah hanya sandiwara politik. Tujuan utama mereka adalah untuk menemui seseorang yang sedang dalam pelarian karena tidak mau bertanggung jawab atas kasus yang menimpanya: kasus chat mesum dengan seorang janda cantik. Mereka ingin meminta petuah dari Habib buronan tersebut.

Sepertinya Amien Rais perlu segera membuka topeng politik agama yang sedang dipakainya. Amien Rais perlu segera memohon ampun kepada Tuhan yang Mahakuasa, Allah SWT. Saya takut dia akan kena laknat oleh Allah akibat tindakanya mempolitisasi rumah Allah dan Allah sendiri selama ini. Bertobatlah Mas Amien…!!

0 Response to "Sadis! Masjid, Kakbah, Hingga Allah Dipolitisasi, Awas Dilaknat Allah! "

Posting Komentar